RSS Feed

Jumat, 16 April 2010

profil internal

“MENGENAL JATI DIRI PRIBADI”

Setiap manusia terlahir dengan berbagai kondisi yang berbeda. Lalu dibesarkan pada kondisi yang berbeda pula. Tak ayal jika akan mempengaruhi watak dan tingkah lakunya. Jati diri manusia berbeda antara satu dan yang lainnya. Setiap manusia memiliki sisi positif dan sisi negatif dalam dirinya. Sebagai seorang pemimpin sejati, tentunya harus dapat mengenal sisi-sisi yang terselubung dalam pribadinya. Hal ini mencirikan seseorang tersebut telah memiliki jiwa kepemimpinan dalam dirinya. Selanjutnya, proses pendewasaan menyikapi kelebihan dan kekurangan pada setiap sisi dalam dirinya dengan bijaksana sebagai wujud tanggung jawab seorang pemimpin. Namun yang sering menjadi permasalahan adalah seringkali kita hanya ingin menilai sisi positifnya saja dan enggan untuk menerima kekurangan diri. Padahal sisi negatif dalam diri kita merupakan tolak ukur motivasi diri untuk berkembang lebih baik dan bermanfaat.

Sebagai perwujudan tanggung jawab Sang Pemimpin terhadap diri pribadi, saya ingin memaparkan beberapa sisi positif dan negatif yang menurut saya terdapat dalam diri sebagai jati diri pribadi. Saya, Nurul Aulia Rahmi, mahasiswi Farmasi FMIPA UNLAM, hingga saat ini saya masih mengecap pendidikan di perkuliahan. Sejak dulu saya senantiasa bersemangat dalam menuntut ilmu. Bagi saya, dengan memiliki ilmu itu akan menuntun diri menjadi lebih baik. Ilmu akan menuntut setiap tingkah laku yang akan kita ambil dan dengan ilmu akan mengendalikan setiap gejolak yang seringkali terjadi di dalam hati. Hal tersebut menjadikan diri saya menjadi sosok yang lembut pada orang lain. Hampir setiap orang yang mengenal saya akan mengatakan begitu lembutnya saya. Kelembutan ini tak menjadikan saya lemah. Saya hampir dapat dikatakan seorang yang gigih dan tak mengenal putus asa. Secara luar, saya begitu lembut, tetapi di dalam jiwa saya selalu berkobar semangat untuk menjadi lebih baik.

Seringkali orang-orang di sekitar saya mengatakan bahwa beruntung saya adalah sosok yang cerdas. Sebenarnya kecerdasan manusia itu relatif tergantung dengan usahanya. Begitu pula dengan saya. Saya hanya memanfaatkan waktu belajar dan mengulang materi yang telah diberikan. Alhamdulillah, saya diberikan kemampuan mengingat yang cukup baik. Hanya dengan melihat sepintas, insya Allah dapat dengan mudah saya mengingatnya kembali. Selain itu, saya cukup handal dalam kalkulasi dan perhitungan. Keluarga saya rata-rata pandai dalam perhitungan logika sehingga saya pun demikian. Bagi saya perhitungan itu cukup mudah sehingga saya paling suka pelajaran berhitung seperti matematika atau kalkulus, fisika, dan lainnya yang berbau perhitungan. Untuk bidang yang saya geluti sekarang ini, yakni di Farmasi, saya sangat menyukai perhitungan dosis pada Farmasetika dan Ilmu Resep.

Mengenai hobi yang saya minati, saya cukup handal dalam memasak. Dulu cita-cita saya ingin menjadi seorang Ahli Gizi yang kemudian dapat membuka rumah makan. Hal ini sangat berkaitan dengan hobi dalam memasak. Berbagai masakan sederhana bisa menjadi santapan lahap setelah saya permak sedikit. Bagi saya, memasak seperti halnya perhitungan pada kimia. Berbagai perhitungan yang diinginkan semuanya berasal dari/ akan menjadi konsentrasi (N) dan volume (V) sehingga rumus yang tetap dalam kimia adalah N1 x V1 = N2 x V2. Begitu pula dengan memasak. Berbagai masakan lezat semuanya digunakan resep yang sama, yakni menyeimbangkan rasa kelezatannya dan yang paling penting adalah keseimbangan gula dan garam yang digunakan.

Tak dapat dipungkiri, saya pun memiliki banyak sisi negatif dalam diri bahkan mungkin yang lebih banyak daripada Anda. Secara umum, mungkin akan terlihat sifat manja dalam diri saya. Saya adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Sebenarnya, saya dan kakak sama-sama anak yang manja. Hal ini karena orang tua yang sangat menyayangi kami. Manja bukan berarti terus berpangku tangan. Namun, biasanya sebagai bentuk perhatian orang tua untuk memotivasi semangat belajar.

Ada sebagian orang yang memandang saya sebagai sosok yang egois. Hal ini tidaklah saya pungkiri. Terkadang saya memang terlihat mementingkan kepentingan diri sendiri. Terkadang saya hanya menuntut agar kehendak saya yang harus diutamakan. Menurut saya, keegoisan memang senantiasa mengiringi kehidupan manusia. Hanya saja bagaimana meletakkan keegoisan dan seberapa besar, itulah yang harusnya dipertimbangkan. Setiap individu memiliki kadar tertentu dalam keegoisannya dan mengendalikan keegoisan tersebut. Sebagai manusia biasa, memang tak ada yang sempurna. Mungkin saja, dalam pertimbangan saya, yang saya lakukan telah benar dan tepat. Namun tentu akan berbeda dalam pertimbangan orang lain. Untuk itulah kita perlu mengoreksi diri dan yang terpenting adalah permintaaan maaf dan saling memaafkan sebagai wujud keikhlasan dalam diri.

Ada pula segelintir orang yang mengatakan saya jahat. Entah jahat dalam konteks seperti apa yang dimaksud. Mungkin di saat mereka memerlukan saya, saya sibuk atau saya tidak mau karena beberapa pertimbangan tertentu atau karena saya memang jahat. Dalam hal ini, saya sering tidak menepati janji. Sebenarnya tidak tepat jika dikatakan tidak menepati janji. Hanya saja saya seringkali mengalihkan pemikiran lebih positif sebelum melakukan sesuatu. Dalam pikiran saya, saya hanya akan melakukan hal yang bermanfaat. Biasanya saya malas untuk mengerjakan hal yang membuang waktu dan sia-sia belaka.

Menurut saya pribadi, saya seringkali mudah terpengaruh dengan barang-barang yang dijual di pasaran, seperti baju, sepatu, dan lainnya. Ini tentunya menjadikan saya menjadi seorang yang boros. Saya menyukai barang-barang yang baru dan unik. Biasanya ketika diajak teman ke pasar, saya lah yang lumayan banyak belanjaannya. Meskipun demikian, saya masih shoppiholic yang tergolong hemat. Saya belanja berdasarkan perhitungan kelebihan uang bulanan.

Saya juga seorang yang ambisius. Ambisi saya untuk menjadi numerous unos (no.1) selalu memacu semangat untuk melakukan yang terbaik. Namun, ambisi yang terlalu berlebihan justru akan menjadi kelemahan dalam diri kita. Ambisi yang berlebihan hanya akan menimbulkan kecongkakan dalam diri.

Dalam penciptaan manusia telah ditetapkan secara berpasang-pasangan. Demikian pula dengan watak dan sifat seseorang, masing-masing memiliki sisi positif dan sisi negatif dalam individunya. Hanya saja yang menjadi keistimewaan seseorang adalah bagaimana menyikapinya sebagai wujud pendewasaan. Seseorang yang telah mengenal sisi-sisi dalam dirinya dan menyikapinya berarti dia telah memiliki jiwa kepemimpinan. Seorang pemimpin yang sukses harus mampu memimpin dirinya sendiri sebelum memutuskan untuk menjadi pemimpin bagi orang lain.

Banjarbaru, 10 April 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar